Sebulan Bersama Khaled Hosseini

Dalam kurun waktu 1 bulan, saya udah melalap dua buku karangan Khaled Hosseini (dia baru nulis dua buku sih) yang kebetulan seorang dokter, ganteng pula. Hanya saja bukan dua alasan itu yang membuat saya membaca buku – buku karangannya.

Provokasi halus seorang teman baik (tapi saya bersyukur dia melakukannya) membuat saya membeli The Kite RunnerThe Kite Runner edisi bahasa Inggris yang habis saya lalap dalam 3 jam. Jangan tanya soal isinya, hiks… hiks… emang bagus banget, kisah seorang pria dewasa yang berusaha memperbaiki kesalahannya saat dia berusaha memperoleh cinta sang ayah waktu dia kecil dulu (halah…) Dangdut banget ya? Gak juga sih bukan ceritanya yang dangdut tapi cara saya menarik kesimpulan😀
Setting cerita ini juga yang buat saya gak ragu untuk membeli buku ini, yaitu masa jaya Afghanistan sebelum Uni Soviet masuk sampai masa Taliban. Kalau sudah membaca buku yang bersettingkan perang, saya sering bersyukur tidak pernah merasakan getirnya perang dan selalu berdoa semoa tidak pernah merasakannya… hiks… hiks…


Kalo tertarik membaca buku The Kite Runner ini sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia beberapa tahun yang lalu dengan judul yang sama oleh penerbit Qanita.

Buku kedua adalah A Thousand Splendid Suns, yang baru diterbitkan tahun 2007 ini dan juga sudah diterjemahkan oleh Penerbit Qanita. Khusus A Thousand Splendid Suns saya terprovokasi oleh review NY Times, tapi tidak langsung membeli, karena setelah reviewnya dimuat saya belum berhasil menemukan buku itu di Surabaya. Sekali lagi setting cerita di Afghanistan di masa perang yang membuat saya tertarik membaca buku ini.

Di Jakarta 2 minggu yang lalu sempat nemu buku ini tapi edisi bahasa Inggrisnya masih cukup mahal buat kantong saya. Tapi pucuk dicinta ulam pun tiba, terjemahannya nongkrong dengan manisnya di TB Gramedia Royal Plaza 5 hari setelah saya pulang dari Jakarta. Tanpa habis pikir langsung saya beli mengalahkan Ketika Cinta Bertasbih 2 karangan Kang Abik.

A Thousand Splendid SunsBuku yang ini berkisah tentang seorang wanita Afghanistan yang masuk dalam pernikahan yang tidak bahagia karena tidak mampu menghadirkan anak ke dalamnya. Hal itu membuat suaminya berkelakuan buruk padanya, sampai pada suatu waktu karena perang (gak jelas perang yang mana, tapi sebelum Taliban) hadir seorang gadis muda yang terluka dan yatim piatu karena bom dan diperistri atas dasar kasihan oleh si suami yang penyiksa. Rasa cemburu sekaligus kasihan karena takut si gadis muda akan mengalami nasib yang sama dengannya.
Akhirnya yang ditakutkan pun terjadi, Laila akhirnya melahirkan anak pertama seorang perempuan yang membuat dia mengalami nasib yang tidak jauh berebda dengan Mariam yang pertama kali masuk dalam rumah tangga itu.

Kehadiran Taliban, membuat keduanya tidak mampu melawan dan harus bertahan bersama Rasheed, the abusive husband. Kesamaan nasib inilah yang membuat keduanya menjadi dekat bagai kakak dan adik atau malah ibu dan anak. Satu bagian cerita yang membuat saya miris, yaitu saat Laila harus menjalani operasi Caesar tanpa obat bius di RS khusus wanita, dengan dokter yang diwajibkan mengenakan burqa saat mengoperasi dan tanpa antibiotik. Kenapa demikian? Karena itulah satu2nya RS Khusus Wanita, tidak peduli bagaimana keadaannya semua pasien wanita harus dikirim ke sana.

Hiks… hiks… Bagaimana kelanjutannya? Baca sendiri ya… yang jelas Laila, yang selamat dari operasi itu dan melahirkan bayi laki – laki, beserta Mariam akhirnya bisa lepas dari Rasheed dan menempuh jalan hidupnya masing – masing. Hanya saja lepasnya tidak sesederhana yang saya bayangkan, dan saya juga gak nyangka akan ada ikatan yang sedemikian kuat antara Laila dan Mariam mengingat status keduanya sebagai istri Rasheed.

This entry was published on Desember 13, 2007 at 12:55 am and is filed under Buku. Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

3 thoughts on “Sebulan Bersama Khaled Hosseini

  1. bagiku, buku bhs inggris mah khusus buat kuliah ama skripsi doank :))

    btw, dirimu kutimpuk PR RESOLUSI 2008 loh.

  2. Aku kadang2 suka mangkel kalo baca buku terjemahan yang suka ngasal nerjemahinnya. Asal gak mahal2 banget biasanya aku beli yang bahasa inggris🙂
    Waduh.. teganya dirimu memberi aku PeeR. Aku kan bukan siswamu😀

  3. sepakat! Khaled Hosseini emang TOB MARKOTOB! dulu saya baca TKR gara2 mampir di blog penerjemahnya di antie.multiply.com. ga nyesel udah beli n baca tu buku. pengen beli ATSS tapi masih ada 2 buku menunggu untuk dibaca. hiks.. hiks..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: