Displaced Persons Attract Outbreaks

Komentar dari Abblett di postingan saya tentang Bengkulu!!! saat saya sudah di rumah membuat saya terhenyak, karena memang demikian adanya yang saya temukan selama di sana. Mungkin belum bisa benar2 disebut outbreak karena saya tidak memiliki data angka keseakitan dan kematian di daerah itu sebelum bencana sebagai pembanding. Tetapi memang ada peningkatan kasus penyakit2 tertentu seiring dengan bertambahnya hari.

Tidur di luar rumah baik di halaman maupun di hutan karena ketakutan tertimpa bangunan rumahnya sendiri atau tidak sempat melarikan diri saat tsunami datang, membuat mereka lebih terpapar dengan gigitan nyamuk. Belum lagi kurangnya pasokan air bersih membuat diare mulai menjangkiti balita -balita, beserta beberapa orang dewasa di sana.

Hal ini sempat saya sampaikan kepada dokter Puskesmas dan DInas Kesehatan setempat, jawabannya… “oh, kalo malaria dan diare biasa kok” Waks!!!

Bukan masalah biasa atau nggak deh… Masalahnya ini kondisi tidak biasa, Puskesmas perawatan hancur, Rumah Sakit kelebihan pasien. Pasien2 yang terkadang memerlukan perawatan pun ada yang ditolak. SO, apakah ini kondisi biasa? Jelas tidak!!

Di saat bencana datang, alangkah baiknya jika tenaga kesehatan selain difungsikan membantu kurangnya jumlah tenaga dan jangkauan ke daerah2 yang terisolasi tapi juga membantu mencegah terjadinya outbreak yang akan menambah beban di sana.

Bentuknya apa aja nih? Yang jelas terbayang pasokan air bersih harus terjaga, tempat buang hajat juga harus tersedia. Kejadian Mobil MCK terkunci di RS M Yunus Bengkulu juga menggelikan sekaligus membuat miris, banyak pasien dan keluarganya selain buang hajat di tetangga sekitar RS juga buang hajat di halaman😦

Daerah endemis malaria membuat kelambu, insect repellent menjadi barang kebutuhan para korban bencana. Ketakutan untuk tidur di dalam rumah juga perlu diatasi. Masih cukup banyak rumah yang layak tinggal sehingga mereka tidak perlu tinggal di luar. Tetapi karena rasa takut yang seperti saya ceritakan di atas membuat mereka tidur di luar.

Banyak ya PRnya buat para pihak yang terjun ke bidang bencana. Padahal ini baru dari satu bidang lho, kesehatan. Belum bidang2 yang lain… Ayo siap2, negara kita kan termasuk yang rawan bencana alam😀

This entry was published on September 24, 2007 at 1:09 pm and is filed under Bencana Alam, Bengkulu, Daily Life, Perjalanan. Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

4 thoughts on “Displaced Persons Attract Outbreaks

  1. yang gw prihatin adalah sikap pemerintah kita yang tidak memiliki manajemen krisis dalam hal apapun, boro-boro bencana alam, untuk hal-hal yang sebenernya bisa dicekal seperti flu burung pun kita masih kalang kabut. Gw geuleuh waktu Menkes ditanya tanggapan tentang beras berklorin, dia bilang ‘belum ada korban kan?

    Belegug

  2. sibermedik on said:

    Lha dokter dah kemoprofilaksis pake Chloroquine sblm brangkat ksana? jangan2 jd carrier plasmodium ke jawa?

  3. gak pake😀 soalnya dulu waktu ke NTT pake profilaksis hasilnya mataku langsung kabur setelah 1 bulan pemakaian. Karena efek samping ke retina irreversible, langsung aku hentikan. Baru membaik setelah 1 bulan berhenti minum.

  4. kalo gak salah kan ada ya panduan WHO tentang situasi disaster/emergency, apa aja yang harus disiapkan, bahkan ada paketnya juga (Interagency Emergency Health Kit) yang katanya disimpan di gudang nasional?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: