Sad Stories of a Doctor

Semoga cerita di blog tetangga ini tidak membuat keder para dokter untuk pergi PTT, dan semoga bisa menginspirasi para dokter atau perkumpulan para dokter (baca IDI, eh ada yang ngeblog gak ya?) untuk menekan pihak2 yang memperkerjakan para dokter untuk diperlakukan lebih baik.

Singkatnya blog di atas berisi kisah dari seorang kawan yang sedang PTT di suatu pulau di suatu propinsi di timur Indonesia. Dituntut mengabdi tapi dengan kisah klasik gaji dan insentif telat dibayarkan, belun lagi jasa medik yang disunat oleh pihak RS (baca direktur)
Belum lagi obat2 diagnostik yang dibawa tidak digantikan padahal sebenarnya ditanggung ASKES tapi tidak disediakan RS, benang operasi yang tidak tersedia di RS yang dibawa dari Jawa tidak boleh dichargekan, padahal di pulau itu memang tidak ada yang menjual.
Lha kalo mau operasi trus benang gak ada masa mau diselotip? Mau dirujuk ke propinsi, mau nunggu kapal dateng kapan? Naik pesawat disuruh bayar pakai apa? Bukannya tujuan PTT salah satunya buat pemerataan pelayanan kesehatan. Eh, malah gak didukung blas ama direktur RSnya malah dipuih2. Oke lah, soal benang n obat2 diagnsotik yang dibawa gak diganti… Tapi ya mbok jasa medik yang jadi haknya dibayarkan dong… Ojok disunat dewe…

Saya jadi gak bisa nyalahin kalo ada dokter yang berat untuk pergi PTT ke daerah yang kurang dokternya, karena perlakuannya suka gak masuk akal. Walaupun ada segelintir yang bisa mengecap pengalaman yang menyenangkan. Pengen sih pihak2 nun jauh di atas sana (baca: Menkes dan Ka Ropeg) untuk lebih membuka telinga dan mata atas nasib para dokter PTT yang diplokotho di daerah… Dimudahkan memperoleh hak2nya, dibantu kalo ada masalah, gak cuma dituntut pengabdian thok… Dokter juga manusia yang perlu memenuhi kebuituhan pribadi n keluarganya. Masih banyak yang pengen mengabdi kok tapi mbok ya nasibnya kita lebih diperhatikan. Biar keluarga juga lebih rela melepas kita ke daerah. Stuju???

This entry was published on Juli 27, 2007 at 12:26 am and is filed under Curhat. Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

11 thoughts on “Sad Stories of a Doctor

  1. Saya turut prihatin atas nasib ribuan dokter PTT, namun setahu saya ada juga dokter PTT yang bernasib baik, misalnya saja sejumlah dokter PTT di Kabupaten Aceh Barat Daya, Nanggroe Aceh Darussalam, selain diberi insentif setiap bulannya dari APBD II, mereka juga diberikan kesempatan untuk disekolahkan ke jenjang yang lebih baik lagi, namun syaratnya mau menetap dan mengabdi disana sekitar 10-15 tahun.

  2. jd pelampiasannya..publikasi aja yg gitu2..biar para ortu yg pengen anaknya jd dokter jg mikir2..🙂
    maunya maen uang mulu..
    yg dikomplain jg biar tau rasa..
    emang enak jd dokter (ndeso)..😦

  3. Btw ini yang diplokotho dokter spesialis lho… dia bawa obat diagnostik n benang bukan tujuannya komersil, tapi menunjang pekerjaannya.

  4. @jaka
    tapi masih lebih banyak dokter yang gak diperhatikan ama tempatnya mengabdi deh. gimana kita mau percaya dia bakal merhatiin kita selama 5 – 10 tahun kalo yang buat sehari-hari aja gak merhatiin.

  5. Heheheh..kasian deh dokter spesialis ituuu

    Wakakaka…Thanks ya Tri…wis di link-kan.

    Mudah2an ada update-an nya sebentar lagi..

  6. sibermedik on said:

    ini orisinil kan mbak?mbok ya dikirim ke saya?sapa tau ntar bukunya dibaca bu menkes + pak IDI…

  7. orisinil kok… nanti kukasih informasi kontaknya ke kamu via e-mail/fs

  8. Aduh mbak,saya jg salah satu contohnya.Saya ketrima PTT di Biak-Papua u/ periode Nov.Sesampainya di Biak,kami ditelantarkan DinKes .Ini sudah 3 mg km di Biak,nunggu ditempatin dipulau.Akomodasi ditanggung sdr,pihak DinKes ga mau keluar uang.Kok rasanya nelongso ya,mereka yg minta dokter PTT,kita dateng tp ga “dianggep”.Gemes deh,mu lapor MenKes,takut SMB ga keluar.Serba salah…

  9. Ya begitulah nasib dokter, Sudah ada yang mau ngabdi biasanya diklemprakno sama dinkesnya. Hak-hak gak pernah diperhatikan, hanya kewajiban terus yang dituntut. Kalo sampe ada dokter yang gak mau PTT n milih langsung sekolah atau berusaha hidup nyaman di Jawa dekat keluarga ya bisa agak dimengerti juga sih.
    Cuma, percaya deh, 6 bulan PTT itu bakal memperkaya pengalaman dan jiwa, belum lagi skill ala koboi hehehe.. karena alat, obat dan SDM penunjang yang terbatas.
    Soal ngelapor ke Menkes, lapor aja, Menkes kita kayaknya agak lebih peduli soal nasib dokter PTT, dulu ada yang sms langsung ditanggapi dan ada tindakannya kok.
    baik2 ya di sana, n hati2….

  10. dokterpenulis on said:

    asli ngenes tenan.. sekarang sudah kelar to mbakyunya dari rsud sambernyowo itu?

  11. @DokterPenulis
    Udah kelar tuh n barusan ketrima jadi CPNSnya FK Unair🙂
    sengasara membawa nikmat hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: