Laporan Pandangan Mata: Simposium Dermatosis Bulosa (1)

Tgl 14 April yang lalu saya berkesempatan menghadiri Simposium Dermatosis Bulosa yang diadakan oleh Kelompok Studi Dermatologi Anak Indonesia (KSDAI) yang diadakan di Hotel Sheraton, Surabaya.

Acara dimulai pukul 08.45 dengan pembukaan oleh ketua panitia dan KSDAI, kemudian dilanjutkan dengan kuliah Gambaran Umum Dermatosis Bulosa pada Bayi dan Anak yang dibawakan oleh Prof. Dr. Siti Aisah Boediardja, dr, SpKK. Dalam kesempatan ini disampaikan bahwa kejadian akut dermatosis vesikobulosa umumnya terjadi akibat infeksi, trauma dan alergi, sedangkan yang kronik residif lebih sering dijumpai pada penyakit autoimun dan genodermatosis.
Selain itu disampaikan pula klasifikasi dan diagnosis bandingnya.

Berikutnya, dr. Sugastiasri Sumaryo, SpKK membawakan tentang etiopatogenesis dan penatalaksanaan varisela.
Hal yang menarik adalah saat pembahasan kapan anak ini masuk sekolah, karena biasanya saat masih ada krusta anak masih dilarang masuk oleh pihak sekolah karena dianggap masih menular. Padahal penularan terjadi pada saat awal anak mulai sakit, dan inkubasi antara 10-21 hari, sehingga ada kesan saat si anak masuk dengan krusta , lalu temannya ada yang mulai sakit maka si anak ini yang baru sembuh ini yang ‘dituduh’ masih belum sembuh dan menular.
Sedangkan untuk perawatan di rumah, mengatasi rasa gatal dapat dilakukan dengan kompres dingin atau losio kalamin. Bila lesi mash vesikuler dapat diberikan bedak dengan antipruritus (mentol 0,25-0,5%) agar tidak mudah pecah. Bila sudah pecah atau terbentuk krusta dapat diberikan salep antibiotik(tapi dr. Sugastiasri juga sempat menyebut salep asiklovir) untuk mencegah infeksi sekunder.
Mengenai imunisasi varisela sebaiknya diberikan pada mulai anak usia 1 tahun sampai12 tahun, sebanyak 1 dosis. Sedangkan usia >12 tahun – dewasa, sebaiknya diberikan dua dosis dengan jarak 1 bulan.

Kuliah selanjutnya disampaikan oleh dr. Iskandar Zulkarnain, SpKK yang membahas mengenai etiopatogenesis dan penatalaksanaan impetigo.
Impetigo ini merupakan infeksi kulit superfisial yang biasanya disebabkan Staphylococcus aureus dan Streptococcus grup A.
Untuk impetigo yang ringan dapat diberikan salep antibiotik yaitu asam fusidat atau mupirocin 3x sehari selama 7 sampai 10 hari. Sedangkan antibiotik sistemik diberikan pada kasus impetigo yang berat untuk mencegah komplikasi Post Streptococcal Glomerulonephritis, Selulitis dan Infeksi oleh MRSA. Antibiotik pilihan antara lain flucloxacillin dan eritromisin.
Sedangkan untuk perawatan kulit antara lain dengan cara membersihkan kulit anak dengan antiseptik topikal (chlorhexidine 0,05%, povidone iodine 10% dan NaCl 0,9%), melepaskan krusta agar antibiotik topikal dapat masuk ke dasar permukaan kulit, menjaga kuku anak agar tetap bersih, mencuci bahan yang terkontaminasi

Phuuuh capek…Yang sesi 2 (dermatosis bulosa yang kronik residif) disambung kesempatan berikutnya ya… mau berangkat praktek dulu nih…

This entry was published on April 16, 2007 at 5:14 pm and is filed under Acara Ilmiah. Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

One thought on “Laporan Pandangan Mata: Simposium Dermatosis Bulosa (1)

  1. dani iswara on said:

    seandainya panitia dan pembicara juga dpt meng-online-kan bahan yang di presentasikan scr gratis..walaupun misalnya..stlh sekian bln berlalu..😀

    untung ada yg menulis kembali..

    disambung dok ya..😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: