Tano Niha (1)

Tgl 27 Mei yl saya berkesempatan u/ kembali ke Tano Niha. Ini kali kedua saya ke sana setelah gempa tgl 28 Maret 2005. Banyak hal yang membuat saya merasa sedih karena keadaan mereka yang begitu mengiris hati dan hal itu terjadi tidak semata – mata karena gempa yang terjadi tgl 28 Maret 2005 tapi keadaan yang sudah berlangsung lama…

Jalan – jalan menuju ke pelosok Nias yang begitu buruk sehingga menyulitkan mereka untuk menjual hasil bumi mereka, menyulitkan mereka untuk memeperoleh rupiah yang lebih banyak untuk membelikan makanan yang baik bagi keluarganya, menyulitkan mereka mencari pengobatan jika mereka sakit karena ongkos transportasi yang terkadang jauh lebih mahal ketimbang obat yang harus dibayar, membuat sekolah menjadi sesuatu yang sulit karena biaya transportasi yang harus dikeluarkan

Saya kemudian berkesempatan bertemu dengan seorang ibu berusia 25 tahun yang membawa kelima anaknya, yak benar lima anaknya, datang ke pengobatan gratis yang diselenggarakan oleh JRK bekerja sama dengan KRK. banyak hal langsung berkelebatan di pikiran saya, kapan ibu ini pertama kali mempunyai anak, bagaimana dia mengurus anak2nya yang sedemikian banyak, bagaimana dia bisa memperhatikan kesehatannya, istirahatnya saat waktunya harus tersita mengurus anak2nya tersebut, dan jangan lupa dia masih berusia 25 tahun, masih ada kemungkinan akan lahir anak2 lain lahir dari rahimnya. gurat-gurat kelelahan begitu tampak jelas di wajahnya…hal ini merupakan hal yang sering saya temui selama di Nias, bahkan masih ada keluarga yang memiliki 7, 8 bahkan 10 anak.

Menurut beberapa orang suster yang berkarya di Tano Niha, hal ini terjadi selain karena ketidaktahuan bahwa kehamilan dapat diatur (bagaimana mereka bisa tahu kalau mereka tidak bisa sekolah, tidak ada bidan di sana, apalagi dokter), adat yang berlaku yaitu calon suami harus membayar uang jujuran yang nominalnya paling tidak 20 juta beserta sejumlah babi kepada keluarga calon istrinya (bahkan ada yang 170 juta karena anak perempuan tersebut seorang bidan) membuat semakin banyak anak perempuan yang dimiliki semakin banyak uang yang akan masuk kantong, belum lagi tidak ada listrik yang membuat tidak ada kegiatan lain yang dilakukan setelah gelap datang kecuali kegiatan kamar tidur.

Hasil dari jumlah anak yang banyak yang tadi, saya banyak melihat anak2 dengan gizi kurang selain karena ketidaktahuan orang tuanya dalam menyediakan makanan yang cukup gizi juga karena perhatian orang tuanya tersita untuk mengurus kesemua anaknya. anak hanya diberi makan kentang, keladi, tidak diberi susu, kalau tidak mau makan dibiarkan. tidak heran ada anak berusia 4 tahun tapi dengan postur 1 tahun, gimana dengan otaknya (tanpa bermaksud kasar)

Banyak sekali yang harus dilakukan untuk memperbaiki kondisi masyarakat di sana, dan percayalah dibutuhkan waktu yang lama dan tenaga yang besar dan hati untuk bisa berkarya dan memperbaiki keadaan hidup mereka…

This entry was published on Juni 28, 2005 at 2:32 am and is filed under Blogroll. Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: